Cerita Sange Kisah Nikmat Setubuhi Gadis ABG Cantik Apoteker

Cerita Sange Kisah Nikmat Setubuhi Gadis ABG Cantik Apoteker – Cerita Sange, Cerita Sange ABG, Cerita Bokep, Cerita Bokep Perawan, Cerita Sex, Cerita Hot, Cerita Dewasa, Cerita Ngewe, Majalah Sex, Majalah Bokep, Majalah Hot, Majalah Dewasa, Cerita Bokep ABG, Cerita Hot ABG, Cerita Sex ABG, Cerita Daun Muda, Cerita Seks, Majalah Seks, Kisah Dewasa, Kisah Dewasa Hot, ABG Pramuka, ABG Mesum, Seks Sedarah, Sex Sedarah, Ngentot ABG, Ngentot Seks, Ngentot Sex, Ngentot Tante, Ngentot Sedarah, Birahi Tinggi, Seks Birahi, Sex Birahi, Tante Sange, Tante Hot, Bokep Tante, ABG Sange, Mahasiswi Mesum, Seks Mahasiswi, Sex Mahasiswi, Mahasiswi Sange, Foto ABG Sange, Foto Cewe ABG, Foto Ngentot, Foto Cewe Seksi

Ku pacu sepeda motorku cukup kencang malam itu. Waktu sudah lewat tengah malam, dan aku tergesa-gesa mencari apotek karena Doni, teman sebelah kamarku terkena alergi yang cukup parah. Salah sendiri memaksakan diri memakan kepiting saat tahu itu bisa membuatnya alergi. Alhasil, sekarang aku yang kebingungan mencarikan obat untuknya. Jalanan sudah sangat sepi, mungkin beberapa jam lagi akan tiba waktu subuh. Untungnya masih bisa kutemukan apotek 24 jam yang letaknya sekitar 6 kilometer dari tempat kost ku.
Ku parkirkan motorku dan bergegas memasuki apotek. Hanya ada 1 orang yang berjaga, wanita dengan wajah yang cukup manis.

“Malam, Mas. Ada yang bisa dibantu?” Tanya mbak penjaga apotek tersebut.
“Ini Mbak, saya cari obat ini…” Jawabku sambil memberikan kertas kecil yang berisikan nama obat yang minta dicarikan Doni
“Sebentar mas saya lihat dulu ya.” Balas mbak penjaga sambil berlalu masuk membawa potongan kertas yang aku berikan.
Aku yang masih terpacu adrenalin berusaha mengumpulkan nafas sambil melihat-lihat obat yang ada di etalase apotek. Karena haus, aku lantas mengambil air mineral yang ada di dalam kulkas disamping etalase obat tersebut.
Mbak penjaga apotek pun kembali dari ruangan belakang.
“Yah, Mas. Maaf untuk obat ini stok kami disini sedang habis. Stok masih ada di apotek cabang kami yang ada di sebelah selatan sana mas.” Jelas Mbak tersebut.
“Beneran, Mbak? Duh, itu apoteknya ada dimana mbak? Gak bisa diambilin atau dianterin aja gitu, Mbak? Saya capek nih…” Pintaku.
Memang aku mengendarai motor, namun adrenalin yang membuatku terburu-buru terbukti membuatku capek dan sedikit berkeringat.
“Hmm, sebentar saya tanya apa ada penjaga di apotek sana yang sedang berjaga dan bisa mengantarkan ya mas…” Balasnya sambil kembali berlalu masuk.
Aku pun kembali menghabiskan minumku dan duduk di bangku tunggu yang tersedia.
Mbak apoteker keluar kembali tidak lama kemudian.
“Mas, alhamdulilah ada penjaganya, tapi ia sedang mengantarkan obat terlebih dahulu.
Paling sekitar 20 menit lagi sampai ke sini. Bagaimana?”
“Iya gapapa deh mbak, saya tunggu aja…”

Mbak tersebut pun mengangguk sambil melemparkan senyum manisnya. Aku lantas menelpon di luar apotek untuk mengabarkan Doni perihal obat yang masih harus menunggu tersebut. Sepertinya keadaan Doni sudah membaik dari sebelumnya, jadi ia tidak masalah bila harus menunggu sedikit lebih lama.
Selesai menelepon pun aku kembali masuk. Mbak apoteker duduk ditempatnya semula sambil memperhatikanku yang terlihat bosan, melihat-lihat jejeran obat di etalase di depannya.
“Oya, mbak namanya siapa?” Tanyaku sok berani.
“Ellen, Mas. Kalau mas?”
“Aku Arif. Jangan panggil mas ah, panggil Arif aja hehehe.”
Ellen pun tertawa kecil sambil memalingkan mukanya melihat keluar jendela.
“Cari obat alergi untuk siapa memangnya, Rif?” Tanya Ellen.
“Teman kosan, tadi sore makan kepiting. Sekarang badannya bentol segede tangan kamu…” Jawabku setengah bercanda, Ellen cekikan mendengar jawabanku.
Aku yang tidak bisa diam, mondar mandir sambil memperhatikan obat, menghentikan langkahku di depan tumpukan kondom yang dijual di apotek tersebut.
Ku perhatikan seksama berbagai macam kondom yang ada, dari yang berwarna merah, hitam, sampai kuning keemasan.
“Lihat-lihat, emang mau beli ya?” Tanya Ellen menggoda ku.
Aku pun sedikit kaget, karena tidak sadar aku bengong memperhatikan kondom yang ada.
“Hahah, enggak sih. Masa main sama tangan pake kondom…” Jawabku nakal.
Jawabanku ternyata membuat Ellen tertawa.
“Ya cari dong, Rif…” Balas Ellen.
“Iya sih, sama kamu aja gimana?”
“Ih, kurang ajar banget sih..” Kata Ellen, intonasi nadanya tidak terdengar perlawanan, hanya seperti bercanda.
“Hahaha, ya maaf deh. Tapi emang gak bocor pake kondom ya?” Aku pura-pura bertanya untuk memancing Ellen.
“Ya enggak dong, biar tipis juga kuat. Asal buka bungkusnya jangan pake gunting. Kalo itu sih ya pasti bocor. Hahaha.”
“Hahaha ya iya itu sih. Terus, bagusan yang mana?” lagi lagi pertanyaanku berusaha untuk memancing Ellen.
“Nih yang item aja, ada obat kuatnya, biar gak gampang loyo…” Jawab Ellen sambil mengeluarkan kondom dengan kotak berwarna hitam.
“Ah aku sih gak pake obat kuat juga udah kuat…” Bela ku.
“Hahaha ya terserah, atau yang merah nih, tipis, lebih nikmat katanya.” Cerita Bokep
“Katanya? Kenapa gak kamu buktiin sendiri?” Pertanyaanku semakin spesifik untuk mengajak Ellen tidur bersama ku. Ellen hanya tersenyum.
“Hihih, aku selesai shift jam 5, Rif. Satu jam lagi…” Jawab Ellen penuh makna sambil mengedipkan matanya.

Cerita Sange Kisah Nikmat Setubuhi Gadis ABG Cantik Apoteker

Cerita Sange Kisah Nikmat Setubuhi Gadis ABG Cantik Apoteker

Aku tersenyum mendengar jawabannya.
Terdengar suara motor di depan apotek, ternyata obatnya sudah sampai. Langsung Ellen mengambilkan obat untukku dan membungkusnya ke dalam plastik.
“Itu yang merah jangan lupa…” Ujar ku pada Ellen, ia lalu memandangku penuh arti dengan senyumnya yang cukup nakal.
Setelah selesai membayar, aku pun bergegas kembali ke kosanku. Ku berikan obat kepada Doni dan langsung masuk ke kamarku sendiri.
Ku keluarkan kondom yang ada didalam plastik, ku lihat bon pembelianku. Saat ku perhatikan, ternyata Ellen menuliskan nomer teleponnya dibalik kertas. Segera saja ku catat, dan ku sms Ellen.
“Kalau sudah mau pulang, kabari ya. Aku rapihin kasur dulu, hehehe.” Tulisku singkat sambil merapihkan kamar. Entahlah, padahal belum tentu juga Ellen serius menanggapiku.
Tidak lama, ponselku bergetar dan ku lihat ada satu pesan masuk.
“Oke sayang. :*” begitu balas Ellen. Dengan emoticon cium membuatku semakin bersemangat.
Tidak sampai 10 menit, kamarku selesai ku rapihkan.
Ku lihat jam, dari apa yang Ellen katakan sewaktu di apotek, masih ada 30 menit lagi sampai jadwal shiftnya selesai. Aku hanya menunggu sambil duduk di pinggir kasur. Ku perhatikan kondom yang ku beli di apotek barusan.
“Tipis, plis, lo harus masuk ke meki Ellen pagi ini plis…” Batinku dalam hati sambil memegangi kondom tersebut.
Sepuluh menit kemudian Ellen kembali mengirimkan pesan kepadaku.
“Kamu berangkat sekarang aja, aku lagi siap siap mau pulang nih…” Isi pesan tersebut.

Aku pun bersemangat dengan nafsu menggelora. Segera ku kenakan jaket tebalku, dan ku pacu lagi sepeda motorku. Kali ini dengan adrenalin yang lebih tinggi, perasaan tak karuan karena akan mendapat kesempatan meniduri gadis cantik yang ku temui di apotek tadi.
Tidak sampai 10 menit, aku sudah kembali ke tempat apotek Ellen. Ku lihat ia sudah berdiri menunggu di samping apotek, rapih dengan seragam putihnya, namun kali ini ditambah atasan kardigan tipis berwarna krem.
“Lama ya nunggunya?” Tanyaku pada Ellen. Ia hanya menggelengkan kepala.
“Mau kemana kita?” Tanya Ellen padaku kali ini.
“Kamu mau kemana? Mau makan dulu?”
“Enggak, udah makan tadi di apotek. Aku capek deh, Rif. Langsung pulang aja yuk…”
“Pulang? Ke rumah kamu, apa ke kosan aku?” Tanyaku menyelidik.
“ke kosan kamu juga gak apa apa…” Jawab Ellen sambil mencubit kecil pinggangku.
Aku hanya meringis sedikit namun tidak protes apa-apa. Aku senang, senang sekali karena Ellen benar-benar mau ikut ke kosanku.
Ku pacu kendaraanku pelan agar dingin tidak terlalu menusuk tulang. Ellen sendiri sudah memelukku dari belakang sejak awal ia naik ke atas motor. Terasa betul kedua belah dadanya yang montok menempel dipunggungku.

BACA JUGA :

Cerita Bokep Nikmatnya Tubuh Gadis Belia Kenalan Baruku

Sampailah kami berdua di kosanku. Ku parkirkan motor, dan menuntun Ellen menuju kamarku. Ku lihat kamar Doni pun sudah tidak menyala lampunya, berganti dengan langit yang sudah memerah dikejauhan tanda sebentar lagi matahari akan terbit.
Ku persilahkan Ellen masuk ke kamar ku. Begitu pintu ku tutup, Ellen yang sedang berjalan ke arah kasur segera ku peluk dari belakang dengan tanganku yang langsung meraba payudaranya.
“Hmm, aku udah gak tahan banget dari tadi tau…” Bisikku pelan.
Ellen langsung melemas dan meletakan tangannya diatas tanganku yang sibuk dengan payudaranya yang lumayan besar tersebut. Desisan pelan terdengar dari mulut Ellen yang mungil karena geli di lehernya dari sapuan lidah basahku.
“Uhhm, nakal ya kamu hmmm…” Rintih Ellen pelan.
Aku segera membuka dan menurunkan kardigannya. Satu persatu ku buka kancing seragam Ellen dan ku tanggalkan pakaiannya. Kini ia hanya mengenakan celana panjang putihnya dan bra hitam dengan renda yang memperlihatkan sedikit putingnya.
Kupingku yang berada tepat disamping bibir Ellen bisa dengan jelas mendengar berat nafas dan rintihan kecil kala aku memasukan kedua tanganku menyusupi celana Ellen. Terasa sedikit bulu halus dipangkal pahanya.
“Buka aja uhhh Rifff. Biar gampangggg…” Desis Ellen.
Aku menurutinya. Ku buka seluruh celananya, termasuk celana dalamnya. Ku balikan posisi Ellen agar menghadap ke arahku dan ku dorong tubuhnya agar tertidur di ranjangku.
Ku buka kaki Ellen, ku lihat vaginanya yang bersih dengan bulu kemaluan tercukur rapih. Vagina dengan warna kemerahan yang sedikit basah itu segera ku hujam dengan serangan brutal lidah dan bibirku. Ku jilati bibir vaginanya, ku gigit gigit pelan klitorisnya dan ku masukan jariku untuk menambah kenikmatan Ellen.
“Aahhh Rifff ahhhhhh….” Teriak Ellen kecil.

Ku tambah rangsangan untuk Ellen dengan meremas payudaranya dengan satu tanganku saat tanganku yang lain sibuk mengocok lubang kewanitaannya dan lidahku tidak ingin melepaskan klitorisnya yang kini semakin merekah, membesar dan basah.
Beberapa kali Ellen menaikan pinggulnya tanda akan kenikmatan yang akan segera mencapai puncaknya. Dan benar saja, Ellen meremas rambutku dengan kencang.
“Aaaah Rifff keluar Riffff aargghhhhhh….” Ronta Ellen.
Kulihat cairan bening hangat mengalir dari dalam vaginanya. Ellen terengah-engah dengan tubuh yang bercucuran keringat.
Aku pun kembali naik ke atas tubuh Ellen, menciumi perutnya, payudaranya, dan kembali ke lehernya sambil berbisik,
“Enak gak?”
Ellen mengangguk dengan senyum manja. Tangannya segera meraba penisku yang masih terbungkus celana. Meski Ellen sudah telanjang bulat, namun aku masih rapih dengan pakaian yang tidak terlepas satu pun.
Ellen pun mendorong tubuhku. Ia kini berada diatasku. Ditariknya ke atas pakaianku hingga terbuka. Diciuminya dengan liar leher dan sekitar dadaku. Terasa geli, namun nikmat sekali.
Setelah itu, Ellen membuka celanaku perlahan. Dikeluarkan penis ku dari sangkarnya. Ia terlihat sedikit takjub melihat penisku yang keras dan cukup panjang. Ia pun segera mengocoknya perlahan.

“Hmm, pasti udah gak sabar banget ya si dedek ini?” Tanya Ellen meledek penisku.
Aku hanya tertawa kecil sambil mengangguk.
“Gantian ya, dek…” Kata Ellen ke arah penisku sambil mendekatkan mulutnya.
Dijilatnya batang penisku, dari pangkal sampai ke bagian kepalanya. Dimainkan lidahnya di lubang penisku, dan langsung dimasukan seluruhnya ke dalam mulut.
“Ahhhh, isep Lenn, enakk banget….” Desisku pelan sambil meremas rambut Ellen.
Ia tampak begitu sibuk menghisap penis dan menikmati setiap momennya.
“Uhhh, hmmm ahhh enak sayangggg…” Kata ku pelan.
Selesai dengan penisku, Ellen kembali bangun dan menindih badanku.
“Mana yang merah merah tadi?” Tanya Ellen menanyakan kondom yang aku beli tadi ditempatnya.
Aku pun mengambil plastik putih yang terletak diatas meja disamping kasurku dan mengeluarkan kondom tersebut.
“Nih,” Ujarku.
Ellen pun mengambilnya. “Nih cara buka dan makenya, aku ajarin ya…” Kata Ellen sok menggurui, aku hanya tertawa melihat tingkah dan mendengar perkataannya.
Dengan pelan ia membuka bungkus kondom, dan penuh ketelatenan ia memasangkannya ke penisku.
“Tuh, kalau masangnya bener, kondom tipis ini gak akan robek kok…” Jelas Ellen
“Iya, Ibu Apoteker, terima kasih ya sudah mengajarkan…” Kataku sambil menarik tubuh Ellen dan mengganti posisinya, kali ini aku ada diatasnya.

Kaki Ellen pun sudah bersiap melingkar disekitar pinggangku, ku arahkan penisku ke lubang vagina Ellen. Ku gesekkan pelan, Ellen tampak mendesis dengan mata tertutup dan mulut yang terbuka lebar.
Dengan sekali hentakan, ku masukan penisku seluruhnya ke dalam vagina Ellen. Mata Ellen pun terbelak saat penisku ini mencapai ujung vaginanya.
“AAAAHHHH, RIFFF!” Teriak Ellen.
Aku tidak memperdulikannya dan langsung menggenjot vagina Ellen dengan penuh nafsunya.
Tubuh Ellen yang mungil namun cukup sintal yang ada dihadapanku ini tampak bergoyang seluruhnya seiring dengan genjotanku. Payudaranya yang naik turun tampak begitu menggairahkan. Aku pun meremas keduanya saat pinggangku secara otomatis masih memompa penisku di dalam vaginanya.
“Uhhh, riff nikmat banget riffff. Kontollll kamuu aaahhhhh….” Cerita Sange
Bosan dengan gaya missionaris seperti itu, Ellen meminta dirinya ada di atas. Aku pun mengiyakan dan menukar posisi tanpa melepaskan penisku dari dalam vaginanya
Begitu Ellen diatasku, ia menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan kiri. Membuat penisku terasa dipijat dengan kedutan dari vaginanya yang sangat kuat dan hangat.
“Aaargggghhhhh, enak banget ngentotin kamu Lennnn….” Teriakku sambil meremas kedua payudaranya.

Ellen tampaknya tidak peduli dengan apa yang aku katakan dan yang aku lakukan. Kepalanya mengadah menghadap ke langit langit, dengan mata terpejam dan mulut terbuka. Sesekali ia memainkan rambutnya sendiri. Sungguh pemandangan liar yang sangat luar biasa.
Kali ini Ellen menggenjot pinggulnya naik turun, ku melihat dengan jelas bagaimana gagahnya penisku menghujam masuk, menjadi bagian dari tubuh Ellen, juga menjadi bagian dari kenikmatannya pagi ini.
Genjotan Ellen semakin lama semakin cepat dan liar, sepertnya ia akan mencapai puncaknya sekali lagi.
“Ahhhh, arggh aku mau keluar lagi nih Rifff. Arhhhhhhhh….”
Ellen pun orgasme untuk yang kedua kalinya. Tubuhnya langsung terjatuh diatas tubuhku.
Aku yang belum mencapai puncaknya pun langsung bangkit, meminta Ellen untuk menungging karena aku akan menyerangnya dari belakang.
Ellen yang sudah lemas sekali menungging dengan menyandarkan dada dan kepalanya ke bantal. Tidak peduli ia sudah letih, penisku tetap butuh kenikmatan dan harus ku dapatkan dari vagina Ellen yang hebat ini.
Tanpa basa basi, ku hujamkan sekali lagi penisku. Ku remas pantat Ellen, ia masih mengerang sesekali saat penisku mencapai ujung vaginanya.

Semakin cepat aku menggenjotnya, semakin kurasakan juga akan ada tembakan keras dari dalam penisku.
“Uhhh sebentar lagi sayang, aku udah mau keluarrr…” Bisikku pada Ellen.
Ia hanya berdiam, menikmati saat saat terakhir penisku menggoyang lubang kenikmatannya.
Dan crot… crot… crot…! Penisku pun memuntahkan banyak sperma didalam kondom yang bersarang didalam vaginanya.
Kali ini tubuhku yang lemas dan segera membaringkan diri disamping Ellen.
Ku lihat wajah Ellen, ia sangat cantik, sungguh menggugah nafsu birahi bila melihatnya seperti ini, penuh nafsu dan gairah.
Kami pun tertidur pulas. Untungnya aku tidak ada kegiatan di pagi hari karena begitu ku lihat waktu sudah menunjukkan hampir pukul enam pagi. Sungguh nikmatnya bercinta dengan gadis apoteker yang baru kukenal ini.

BANDARKIU

BANDAR QQ

PUSAT QQ

Leave a Reply